Skip to main content

Bertahan Hidup di Tepi Jurang, Akibat Tanahnya Terkena Abrasi Air Laut

Bengkulu Utara, Siberspace.id - Satu unit rumah, bertengger tepat di sisi jurang Pantai Lais, Kecamatan Lais Kabupaten Bengkulu Utara, membuat merinding sejumlah pengendara di Jalur Lintas Barat (Jalinbar) Sumatra.

 

Pasalnya, sebagian besar dari bangunan rumah itu, sudah terjun ke dasar jurang, namun masih terlihat aktivitas orang yang menempatinya. Seolah tak ada rasa takut terhadap bahaya yang mengintainya, setiap waktu. Dentuman ombak di laut lepas yang membentang di Samudera Hindia yang berada persis dibagian dinding belakang rumah ini, seolah menjadi penyejut bagi sang pemilik dan penghuni rumah.

 

Usut punya usut, ternyata pemilik rumah tersebut bernama Darmansyah. Pria kelahiran tahun 1952 itu, mengaku lebih akrab di panggil Niniak. Kepada Radar Utara, pria bertubuh subur ini mengaku, telah tinggal di rumah tersebut sejak tahun 2000 lalu. Tanah tempat tinggalnya itu, dibeli seharga Rp 700 ribu dengan legalitas dokumen SKT.

“Dulu, tanah saya luas. Panjangnya kurang lebih 100 meter dan lebar ke belakangnya ada yang 50 meter, ada juga yang 40 meter. Batang pohonnya juga masih besar-besar,” ucapnya, Jumat (14/4/2023).

Terhitung sejak tahun 2016, tanahnya mulai menyempit dan terus berkurang, akibat longsor atau abrasi pantai. Bahkan, bangunan rumah dan tempat usahanya, juga porak poranda akibat musibah itu. Kini, tempat tinggalnya hanya tersisa sekitar 3×6 meter yang disekat sebagai bengkel untuk usaha tambal ban dan tempat tidur.

“Karena usaha galian pasir pantai. Di sekitar wilayah Air Padang ini, dulu sangat banyak. Sekarang masih ada satu yang aktif. Kami gak tau kenapa galian pasir itu tidak di tutup. Padahal, itu salah satu penyebab abrasi,” lanjutnya.

Niniak mengaku, tinggal di rumah daruratnya ini bersama 2 anak dan istri. Hanya saja karena kondisi rumah sempit dan kebetulan ada rumah kosong yang boleh numpang untuk di tinggali. Kurang lebih sekitar empat bulan lalu, istrinya diungsikan bersama satu anaknya.

“Jadi, yang di rumah ini tinggal saya dan satu anak saya. Istri dan satu anak saya lagi, tinggal di sebelah sana (Sembari menunjuk arah selatan). Mereka tinggal di sana sambil buat usaha warung kopi,” katanya.

Pindahnya istri bersama satu anaknya itu, sedikit membuatnya tenang. Sebab, untuk tinggal bersama di rumah pribadinya itu, sangat sempit dan berisiko. Terlebih di saat musim hujan.

“Sebenarnya saya khawatir. Tapi mau gimana lagi, mau buat rumah, belum ada modalnya,” kata Niniak lirih.

Ia juga menegaskan, jika nanti sudah memiliki modal. Ia berencana pindah dari lokasi rumahnya itu. Pasalnya, lahan untuk pembangunan rumah sudah mulai berangsur dibeli. Jaraknya pun tak jauh dari tempat tinggalnya sekarang.

“Jadi awalnya tahun 2018, kami dijanjikan oleh pemerintah desa akan diberikan bedah rumah. Kemudian syaratnya harus memiliki lahan. Karena tanah yang kami tempati tidak layak. Tapi, lahannya sudah kami siapkan. Tapi bedah rumahnya sampai sekarang tidak jadi,” tutupnya. (TDT)

Wilayah